Vik. Budi Sutrisno, M.Th.

“Pada hari ini jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu” (Ibrani 3 : 7b-8a).

Janganlah keraskan hatimu !

 

 

Bapak Ibu mungkin kita tidak jauh berbeda dengan orang Israel generasi pertama.

Orang Israel generasi pertama, mereka mendengarkan Firman melalui Musa, mereka melihat tanda-tanda dan mukjizat di depan mata mereka. Mereka mengalami sendiri hal-hal yang begitu ajaib dari Tuhan.

Tetapi mereka tetap tidak bisa percaya kepada Tuhan. Mereka tidak mau taat kepada Tuhan.

 

Tidak taat artinya itu tidak percaya.

 

Tetapi kemudian kita mengatakan, tidak mungkin kita seperti mereka. Benar tidak?

Siapakah di antara kita yang mau disamakan dengan orang Israel generasi pertama ini?

Saya rasa tidak ada.

 

Kita merasa diri kita lebih baik daripada mereka.

 

Tetapi saya merasa takut, mungkin kita sebenarnya tidak jauh beda dengan orang Israel generasi pertama.

 

Disini ada peringatan, “Janganlah keraskan hatimu”.

Kemudian muncul lagi di bawah, “supaya hatimu tidak menjadi tegar (Ibrani 3 : 13b)”

 

 

Orang Israel sudah dengar Firman, lihat tanda-tanda, lihat mukjizat, tetapi mereka tetap tidak percaya.

 

 

Kita setiap minggu dengar Firman, bukan ?

Setiap minggu dengar kotbah, bukan ?

Bukankah kotbah itu Firman Tuhan, penjelasan dari Firman Tuhan ?

 

Tetapi saya mau tanya kepada Bapak Ibu, ketika setiap minggu kita dengar kotbah, apakah kita sungguh-sungguh percaya bahwa itu adalah kebenaran dan kemudian kita mengubah hidup kita sesuai dengan kebenaran itu ? Taat pada kebenaran itu ?

 

 

Atau kita hanya duduk disini, kita mendengarkan kotbah, pikiran kita berjalan, dan kemudian kita menganalisa, kemudian kita katakan,

 

“Iya kotbahnya benar, pasti memang betul seperti itu, itu sesuai dengan Kitab Suci. Ya itu kotbahnya benar, hati saya tergerak, hati saya ditegur oleh Tuhan, hati saya disentuh oleh Tuhan.”

 

 

Tetapi ketika kita keluar dari gereja, kita tetap orang yang sama.

 

Bertahun-tahun mungkin hidup kita adalah hidup yang sama, hidup kita tidak berubah.

 

 

Saya membayangkan seperti ini, hati kita yang awalnya lembut, ketika kita bertobat dan percaya kepada Tuhan, hati kita begitu lembut. Kita menerima seluruh kebenaran Tuhan yang tiba kepada kita.

 

Tetapi makin lama kita menjalaninya, kita seperti orang Israel generasi pertama.

Dengar kotbah, kemudian kita berpikir, ini kotbahnya benar, hati saya tergerak. Tetapi kalau saya lakukan ini, hidup saya susah. Kalau saya taat kepada Tuhan, ada resiko-resiko di depan, dan ada kesulitan-kesulitan yang sudah terbayang di depan.

 

 

Yesus mengatakan, Ikutlah Aku dalam perikop  Mat 8 : 18-22.

 

“Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya” (Mat 8 : 20).

 

Yesus mengatakan, “kalau mau ikut Aku. Mari ikut Aku sekarang.”

 

Kemudian ada yang mengatakan, “Tunggu ya Tuhan, aku mau kuburkan orangtuaku.” (Mat 8 : 21)

 

Kemudian Tuhan menjawab dengan kasar pada ayat ke 22, “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.”

 

 

Itu tedengar kasar. Tetapi Tuhan mengatakan, kalau mau ikut Aku, ya sekarang ikut Aku, jangan sampai tunggu orangtuamu mati. Kalau kamu tidak mau ikut sekarang, ya sudah. Tidak usah ikut saja.

Yesus mengatakan hal-hal seperti itu. Yesus itu terlalu jujur.

 

 

Bagaimana jikalau Kristus mengatakan ini, “Ikut Aku, maka kamu akan mendapatkan surga.”

Siapa yang tidak mau ikut ?

Kita tahu bahwa akhirnya surga, bukan ?

 

Ikut Aku, maka akhirnya masuk surga. Tuhan tidak perlu memberitahu tengahnya ya.

Betul bukan ?

 

Kristus benar bukan, jika mengatakan ini, “Pokoknya sekarang ikut Aku, yang penting akhirnya masuk surga.”

Sesudah berbicara seperti itu, pasti semua orang mau ikut.

 

 

Tetapi Yesus begitu jujur, terlalu jujur.

Sampai-sampai kita sekarang kalau mau ikut Yesus, kita pikir-pikir dulu.

 

 

Tuhan mengatakan, kalau ikut Aku hidup susah.

Sangkal diri, pikul salib, bisa mati, kalau gurunya dianiaya, apalagi muridnya.

Yesus memberitahukan semua ini.

Kita siap tidak ? Kalau tidak siap, ya tidak usah ikut.

 

Sehingga akhirnya kita selalu pikir-pikir. Kalau kita ikut Tuhan, sudah kebayang resikonya, kesulitan-kesulitan di depan seperti apa.

 

Maka akhirnya, tiap minggu hati kita disentuh oleh Tuhan, tetapi kita tidak mau berespon.

 

Setiap Firman itu menyentuh hati kita, itu membuat kita mngeraskan hati kita.

 

Keraskan hati. Terus keraskan hati. Tiap minggu keraskan hati.

 

Mungkin hati kita sekarang sudah seperti batu.

 

 

Kita memang mendengarkan kotbah. Tetapi sama sekali tidak bergeming, sama sekali tidak bergerak untuk mengerjakan kehendak Tuhan. Betul tidak ?

 

Apa bedanya kita dengan orang Israel generasi pertama, kalau kita seperti itu?

Tidak ada bedanya !

 

 

Bapak dan Ibu, dalam Ibrani 3:1 , Hai Saudara-saudara yang kudus yang mendapat bagian dalam panggilan sorgawi,”

 

Setiap minggu Bapak Ibu mendapatkan selebaran warta ya. Pada halaman yang terakhir adalah panggilan sorgawi.

Setiap minggu dari mimbar ini diberitakan apa yang Tuhan sedang kerjakan melalui gereja ini dan melalui gerakan ini, Reformed Injili.

 

Tetapi saya mau tanya, seberapa besar hati kita tergerak dan benar-benar mau terlibat di dalamnya?

Bukankah kita mengabaikan panggilan-panggilan ini?

 

 

Oh iya, itu ada Konvensi Reformasi 500. Ada Refo di Bandung, kita ikut bersukacita, ada ratusan yang ikut konvensi dan ada ribuan yang ikut KKR nya.

Kita ikut bersukacita, tetapi ketika ditanya, apakah Refo yang di Jakarta mau ikut atau tidak?

Kita seringkali menjawab, “Hmm, nanti dulu ya.”

 

“Oh kalau memang tidak bisa ikut konvensi nya, ada KKR nya juga pada malam hari.”

 

Kita juga seringkali beralasan, “Hmm sepertinya dari Karawaci ke Jakarta macet. Sudah macet, kemudian ikut KKR dimana? Oh lapangan Parkir di PRJ. Oh tidak deh. Kalau di Jakarta Convention Center, yang indoor ada AC nya, saya mau.”

 

“Kalau di PRJ sudah di lapangan parkir, sudah capai dari Karawaci ke Jakarta, macet-macet, kemudian di lapangan parkir, mungkin hujan dan kena angin. Kemudian nanti pulang dari Jakarta ke Karawaci malam hari. Oh nanti dulu ya Tuhan.”

 

 

Maka jelas sekali, ini bukan peringatan untuk gereja mula-mula saja. Ini bukan hanya contoh orang Israel pada generasi pertama. Tetapi ini adalah Firman Tuhan untuk kita hari ini.

 

Ibrani 3 : 8, “ Janganlah keraskan hatimu.”

 

 

Ketika panggilan Tuhan itu datang, Tuhan menuntut kita berespon dengan ketaatan kita.

 

 

Kita taat.

Percaya kepada Tuhan bukan soal intelektual, bukan soal logika ini benar. Itu bukan soal perasaan hati kita disentuh.

 

Itu adalah suatu tindakan ketaatan.

 

Ketaatan harus sampai pada suatu kehendak kita yang ditundukkan kepada kehendak Tuhan, dan kemudian kita mengikuti kehendak Tuhan itu, kita mengerjakan kehendak Tuhan itu.

 

 

Itulah namanya taat. Itulah yang disebut mengikut Tuhan.

 

 

Bapak Ibu, jangan-jangan hati kita sudah sangat-sangat keras.