ARTIKEL AKADEMIS

Pertanyaan tentang Manusia
oleh: Charlie Cameron

Apa itu manusia? Apakah manusia sebenarnya dapat memilih dalam hidupnya? Begitu banyak filsuf yang berusaha menjawab hal ini tapi semua berakhir hanya menjadi sebuah ide. Manusia adalah makhluk yang berpolitik, manusia adalah makhluk rasio, dsb. Semua jawaban tersebut hanyalah menjawab satu sisi dari sekian banyak elemen dalam diri manusia. G.C. Berkouwer memiliki pemikiran yang sangat mendalam tentang apa itu manusia.

Artikel ini ditulis oleh Charlie Cameron dalam halaman web nya: http://theologyofgcberkouwer.blogspot.co.id/2012/12/the-question-of-man.html

---

Karena bagi kebanyakan teologi modern pertanyaan “Apa itu manusia?” harus mendahului pertanyaan “Siapa itu Tuhan?” Pendekatan yang dimulai dengan manusia (‘dari bawah’) dapat bertentangan dengan pendekatan yang dimulai dengan Tuhan (‘dari atas’). Doktrin manusia Berkouwer dikenal sebagai “pertengahan antara teologi-teologi yang konflik…yang dicapai dengan pemikiran yang mendalam dan merdeka” (kalimat ini diambil dari A. Willingdale. Dari sebuah tinjauan dalam The Evangelical quarterly, dikutip didepan/didalam sampul jaket tulisan Berkouwer, Man: The Image of God.) Berkouwer menulis, “semua pengetahuan yang bersifat teoretis tidak dapat menjawab pertanyaan: Apa itu manusia?” (Man: The Image of God, p. 20).

Dia mengatakan bahwa “natur manusia itu … tidak tertutup pada dirinya sendiri, dan tidak akan pernah bisa dimengerti di luar dari hubungannya dengan Tuhan … hubungan antara natur manusia dengan Tuhan bukanlah sesuatu yang ditambahkan kepada natur yang sudah lengkap, tertutup pada dirinya sendiri, dan terisolasi; sangat esensial dan penting bagi natur manusia dan manusia tidak dapat dimengerti terpisah dari hubungan ini” (pp. 22-23).

Ini bukan teologi yang dipaksakan yang bersifat otoriter terhadap antropologi. Ini adalah perkembangan konsisten dari iman kepada Tuhan yang hidup yang terus bertahan sejak manusia telah diciptakan dalam rupa dan gambar Allah, manusia tidak dapat dimengerti secara terpisah dari Tuhan.

Patut dicatat bahwa D. Lyon, dalam bukunya, Christians and Sociology, menggambarkan buku Berkouwer, Man: The Image of God  sebagai “buku yang penuh dengan wawasan yang relevan kepada sosiologis” (dalam daftar buku-buku yang direkomendasi oleh Lyon untuk “baca lebih lanjut”).

Berkouwer menekankan bahwa pewahyuan ilahi dalam penciptaan dan pemulihan tidak berkontradiksi dengan manusia sebagai faktor heteronomus yang murni.

Ia berpendapat bahwa kedaulatan Allah yang dimengerti dengan benar, membentuk fondasi yang benar untuk kebebasan manusia, “tindakan ilahi itu. Kemungkinan itu tidak diserap/dihancurkan oleh superioritas ilahi, tapi diciptakan, disebutkan seperti itu” (Divine Election, p. 46).

Ia menggambarkan superioritas ilahi adalah sebagai “superioritas pribadi akan kasih dan anugerah dimana dalam pengalaman manusia adalah membuat ruang untuknya untuk bertindak dengan tidak menghancurkan kebebasanNya” (Divine Election, p. 49).

Dalam bukunya, Man: The Image of God, dia membahas “Human Freedom”, menekankan bahwa manusia menemukan kebebasan sejatinya didalam dan lewat ketaatan sejati kepada kedaulatan Allah (Chapter Nine, pp. 310-348).

Dia menguraikan bahwa konsep2 lain tentang kebebasan manusia akan membawa kepada kedaulatan manusia dan reduksi akan kedaulatan Tuhan hanyalah sebuah ide. Dia menunjukkan bahwa kebebasan dari manusia yang otonomi (Dalam Perjanjian Baru bukanlah istilah yang baik tapi lebih kepada ditolak”) (p. 325).

Ia berkeras bahwa Perjanjian Baru menghadirkan kebebasan sebagai “kebebasan di dalam dan lewat Kristus”, menggambarkan bahwa kebebasan tersebut adalah “bukan…konsep kebebasan yang abstrak tapi … kebebasan … yang sepenuhnya dalam konteks relasi” (p. 321).

Berkouwer menekankan bahwa hubungan manusia dengan Tuhan begitu tidak dapat dihindarkan sehingga, bahkan dalam kesalahannya pun, kehidupan seorang manusia dipengaruhi oleh anugerah Allah.

Pemahaman yang pas akan hubungan antara pencemaran total dan anugerah umum membantu untuk mengatasi dilemma heteronomi-otonomi.

Ia berkeras bahwa “tidak ada … bagian yang tidak tersentuh manusia yang dapat terhindar dari kuasa dosa dan pencemaran”, menekankan bahwa “manusia melalui dosa menjadi seluruhnya tercemar dalam ketidaktaatan dan perseteruan … tapi ia tetap adalah manusia” (Man: The Image of God, p. 127).

Berkeras bahwa kita sama sekali tidak tertarik dengan istilah “’tercemar sebagian, sebagian tidak’, reduksi kuantitatif” (p. 128),  ia tetap mengatakan bahwa “manusia tidak memiliki kuasa untuk memulai dari dirinya sendiri perubahan rohani apapun” (pp.131-132).

Ia berpendapat bahwa, walaupun dalam kejatuhannya, kemanusiaan manusia dipertahankan dan bahwa manusia yang jatuh tidak dapat melarikan diri dari relasinya dengan Tuhan ke suatu area yang melampaui kemanusiaan dan tanggung jawab manusia (seperti yang terimplikasi dalam ekspresi seperti demonisasi dan dehumanisasi) (pp. 134-135).

Ia menggambarkan relasi manusia yang jatuh dalam dosa dengan Tuhan seperti ini: “Manusia ada dan tetap ada didalam tangung jawabnya sebagai manusia dan didalam kesalahannya sebagai manusia yang melawan Tuhan” (p.135).

Mendiskusikan signifikansi dari kisah air bah di kitab Kejadian, Ia menekankan bahwa “Berlanjutnya kehidupan memiliki dasarnya bukan dalam natur dosa manusia yg relatif, tapi dalam hal yang tetap yang ilahi, yaitu dalam anugerah Allah” (p.141). Ia menulis, “Oleh sebab itu pencemaran total, tapi kutukan yang dibatasi; tapi murka Tuhan yang dibatasi tidak pernah berasal dari pencemaran yang sebagian … ada terang yang bersinar dalam pencemaran total manusia yang berperan sebagai terang kemurahan” (p. 142).

Berkouwer berpendapat, ketika pertanyaan tentang manusia harus selalu berhubungan dengan pertanyaan tentang Tuhan, dengan sendirinya pertanyaan tentang manusia akan tertelan oleh pertanyaan tentang Tuhan. Pemahaman akan antropologi teologis menjanjikan untuk mengatasi dilema heteronomi – otonomi dalam filsafat, dilema ‘dari atas – dari bawah’ dalam teologi.

Pemahamannya akan relasi Allah – manusia menentang konsep-konsep tentang relasi yang sesat yang mengancam menghasilkan polarisasi.

Mempelajari bahwa “… konsep relasi telah sering di interpretasikan dalam banyak cara yang sesat. Hal ini dapat dinterpretasikan untuk mengartikan bahwa manusia ada hanya dalam relasinya dengan Tuhan dan Tuhan hanya dalam relasinya dengan manusia”, ia berperndapat bahwa “kesalahan konsep semacam itu tidak menghindarkan kita dari menitik beratkan … kepada konsep alkitabiah tentang relasi dengan Tuhan”. Ia menekankan bahwa kita tidak diminta untuk memilih “relasi diatas realitas”. Ia berpendapat bahwa “dilema tersebut … sama sekali tidak sejalan dengan alkitab, dimana tidak mengorbankan realitas kepada relasi, tapi menunjukkan kepada kita realitas ada sebagai realita, realita yang sepenuhnya diciptakan, hanya dalam relasi dengan Tuhan ini” (Man: The Image of God, p. 35).

Berkouwer menyatakan bahwa dalam antropologi teologis, kita berhubungan “tidak … dengan ide abstrak tentang manusia, tapi … manusia yang aktual” (Man: The Image of God, emphasis original). Ia menantang segala bentuk antropologi idealistis untuk ikut serta dalam self-criticism: “segala pencarian akan pusat tersembunyi dalam natur manusia yang berubah dari manusia yang aktual untuk mencari manusia yang sesungguhnya harus berhadapan dengan pertanyaan apakah perubahan ini dibenarkan atau tidak” (p.18). Tantangan ini ditujukan kepada humanisme dan eksistensialisme. Tantangan dasarnya kepada kedua pandangan ini berpusat pada pertanyaan tentang kejahatan. Dia menjelaskan bahwa “kita tidak dapat menghindarkan diri dari memikirkan akan kejahatan” (p.13, emphasis original). Komentarnya terhadap Yeremia 17:9 – “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, …”, ia mencatat keunikan (“lebih dari pada segala sesuatu”) dan universalitas kejahatan manusia (p.13). Ia kemudian memiliki pertanyaan “apakah pandangan akan manusia yang begitu buruk … bukan suatu hal yang berlebihan … tapi lebih kepada deskripsi sesungguhnya tentang manusia yang sesungguhnya … “ (p.13, emphasis original).

Berkouwer mencatat kerumitan dari bagaimana humanisme kontemporer memperlakukan manusia: “di satu sisi, kritik optimisme yang berlebihan tentang manusia dan disisi lain, tetap tidak mau menyerah pada perubahan humanistik dari manusia ‘aktual’ kepada manusia yang sesungguhnya (Man: The Image of God, p. 14). Ia menunjukkan bahwa “humanisme kontemporer … keberatan untuk diidentifikasikan sebagai kritik optimisme berlebihan, secara naïf kepercayaan yang optimis kepada manusia tapi ternyata di akhir analisanya penampilan humanisme sebagai manusia yang sesungguhnya tetap ada” (p. 15).

Dalam diskusinya tentang eksistensialisme, Berkouwer berpendapat bahwa meskipun “para eksistensialis menjabarkan kejahatan dalam manusia (Man: The Image of God,  p. 24), tetap ada suatu jejak idealisme dalam penekanan eksistensialisme akan kebebasan manusia” (p. 24). Ia tetap mempertahankan bahwa “masalah pencarian akan pusat yang tersembunyi, pencarian akan manusia yang sesungguhnya kembali menjadi muncul” (p.24). Kritik terhadap eksistensialisme dari Berkouwer adalah bahwa hal tersebut tidak melanjutkan fokusnya pada penderitaan manusia, tapi mengarah kepada keselamatan (yang dihasilkan) nya sendiri” (p.25). Berkouwer berpendapat bahwa antropologi semacam itu dapat digambarkan sebagai “suatu bentuk humanisme yang baru” (p.28). Berkouwer berpendapat bahwa “antithesis yang melawan pandangan alkitabiah akan manusia berlandaskan pada antropologi idealistik – walaupun berbaur dalam dirinya sejumlah realisme dan kejahatan manusia yang ditelanjangi” (p.25). kritik fundamentalnya akan humanisme dan eksistensialisme mengenai antroposentrisisme: “aspek religious yang esensial dari keberadaan manusia adalah tersesat dalam analisa tipe horizontal … jalan menuju pengetahuan diri sendiri adalah tidak mungkin dijalani dengan analisa horizontal semacam ini, karena dimensi mutlak dari natur manusia, relasinya dengan Tuhan tetap ada diluar analisa tersebut (p. 29, emphasis original). Tidak dianjurkan disini bahwa seluruh pemikir eksistensialis sebaiknya digabung menjadi satu tanpa mengkategorisasikan mereka. Ada perbedaan antara eksistensialisme religius dan eksistensialisme ateis. Nama-nama ini perlu disebutkan untuk menggarisbawahi perbedaan-perbedaan dalam eksistensialisme. Dalam melihat kritik Berkouwer terhadap eksistensialisme (secara khusus ditujukan untuk melawan filsafat-filsafat dari Sartre dan Heidegger, p. 28-29), kita sebaiknya tidak berlebihan dalam melihat fakta bahwa Berkouwer sendiri menjabarkan “karakter yang bersifat eksistensi” dari pertanyaan tentang manusia (p.18). Ketika kita menyelidiki untuk mengerti tentang manusia, kita menyelidiki untuk mengerti diri kita sendiri. Kita terlibat dalam totalitas keberadaan kita sendiri (p.18).

Antropologi teologis Berkouwer menghadirkan tantangan kepada filsafat ateis. Ia menyarankan bahwa ada alas an2 berbobot untuk mempertanyakan kelayakan antropologi ateis. Ia menyarankan bahwa filsafat ateis kesulitan ketika berusaha bertahan dalam kerangka analisa horizontal tanpa menghasilkan pertanyaan2 yang melampaui cakupan dari analisa itu sendiri. Antropologi teologis Berkouwer mempertanyakan kecukupan dari ateis ketika mereka mengeluarkan dimensi religius dari analisa kehidupan manusia. Ia mempertanyakan kelayakan analisa ateis akan pertanyaan2 mengenai asal dan nasib manusia. Ia mempertanyakan kelayakan perlakuan ateis akan pertanyaan2 yang berhubungan dengan arti hidup manusia. Disini kita mencatat pemikiran – kalimat R. Brow yang menjengkelkan bahwa kita dapat memberi arti kepada keberadaan kita sendiri – “egoteisme”: “Aku percaya kepada diriku sendiri, satu-satunya yang memberi arti” atau kita dapat mencari arti hidup kita dalam Tuhan pencipta kita (Religion: Origin and Ideas, p. 77).

diterjemahkan dari: http://theologyofgcberkouwer.blogspot.co.id/2012/12/the-question-of-man.html

JEJAK ARTIKEL